Tampilkan postingan dengan label Ngawangkong. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngawangkong. Tampilkan semua postingan

Senin, 28 Maret 2016

Kapan Menikah?

“Kenapa belum menikah?,” lalu disusul, “Udah ada calonnya belum?,” dan yang telak menghujam adalah, “Lo masih doyan laki kan?.”

Setahun terakhir, berkisar di situ saja pertanyaan yang dialamatkan pada saya. Annoying? Hehe...kalau saya sih, "yes." Males keleeeeus ditanya-tanya itu melulu. Keberadaan kami yang masih melajang di usia thirty something menjadi sesuatu yang mungkin bagi sebagian masyarakat terlihat janggal dan layak untuk dipertanyakan, sekalipun misalnya kami hidup dengan bahagia dalam kelajangan kami.

Saya seorang muslim, kemusliman tersebut berkonsekuensi pada setiap jengkal detil-detil kehidupan yang saya jalani. Hal apapun, bahkan yang sekecil-kecilnya, saya berusaha tunduk patuh pada aturan islam. Siapa saya, berani menentang-Nya. Mengenai pernikahan, baginda nabi menyatakan bahwa yang tidak menikah bukan termasuk umatnya. Beliau adalah junjungan, panutan, seseorang yang sangat saya percayai segala perkataannya. Apalagi yang lebih mengerikan dari tidak diakui sebagai umat beliau.

Tidak perlu lah saya umbar-umbar sedang menjalin hubungan dengan siapa, toh kelangsungan hubungan itupun tidak pernah saya ketahui dengan pasti akan berjalan berapa lama dan berujung seperti apa. Saya hanya menjalani, mengusahakan yang terbaik dan berserah pada keputusan-Nya. Sejak tidak merasa nyaman dengan konsep ‘pacaran’, saya berhenti pacaran. Hubungan yang dijalani lebih sebagai proses mengomunikasikan hal-hal yang prinsip, berusaha menemukan kecocokan dan mengukur kesanggupan untuk saling menerima kekurangan dan kelebihan masing-masing. Jika di perjalanan terasa tidak lagi sanggup bertahan atau tidak kunjung mendapatkan ketetapan hati, ya saling jujur secepat-cepatnya agar tidak membuang waktu percuma. Aneh? Saya lebih suka dianggap aneh daripada bertahan pada sesuatu yang hati saya tidak berkenan menjalaninya.

Tidak banyak laki-laki yang sepaham dengan jalan yang saya pilih. Tidak ada kontak fisik, sepertinya itu yang terberat bagi mereka. Saya jengah berangkul-rangkulan, atau bahkan sekadar bergandengan tangan ketika menyebrang jalan. Jikalau lah mereka tahu, setiap sentuhan tidak halal itu memberikan kerikil-kerikil panas bagi orang tua kami. Saya sayang sekali orang tua saya, terlebih lagi ibu. Mana lah saya tega menghadiahi beliau bara neraka. Na’udzubillah.

Dulu di masa kuliah, setiap kali mendapat pertanyaan apa nanti akan bekerja di organisasi internasional atau menjadi pegawai kedutaan, selalu saya jawab bahwa itu tergantung keridhoan suami saya. Selama belum menikah, saya bebas mengambil pekerjaan yang saya suka. Setelah menikah, saya hanya akan ambil pekerjaan yang dia ridho atasnya, tidak akan saya bantah. Saya sekolah tinggi bukan untuk bekerja di mana atau meraih posisi apa, pada dasarnya saya senang belajar, itu saja. Lagi-lagi terasa aneh? Ya, tidak apa-apa. Kita tidak harus selalu punya pemikiran yang sama kan?

Arrijaalu qowwaamuuna ‘alan nisaa’. Satu hal yang tidak bisa saya turunkan standarnya dari kriteria suami yang saya harapkan, memiliki kualitas sebagai seorang imam. Dia akan menjadi imam dalam rumah tangga kami, dan saya beserta keturunan kami kelak adalah makmumnya. Seperti dalam sholat berjama'ah, imam harus memiliki kualitas yang disyaratkan, di antaranya adalah ketartilan dan kefasihan bacaan Qur’annya. Tentu saya mengharap suami yang tidak hanya dapat membaca Qur’an dengan baik dan benar tapi juga memahami dan mengamalkan apa yang telah dibacanya. Banyak hal yang akan dialami selama mengarungi bahtera rumah tangga, cukuplah Qur’an menjadi pedoman kami dalam menghadapi gelombang dan badai yang menghadang. Pemimpin yang baik akan membuat seluruh anggotanya padu berjalan ke arah yang sama, membuat segala sesuatu menjadi lebih efisien dan efektif.

Islam membutuhkan pejuang-pejuang tangguh. Dari semua cita-cita, melahirkan penghapal-penghapal Qur’an adalah impian terbesar para muslimah. Jika hari ini saya belum berhasil dengan apa yang saya cita-citakan bagi diri saya sendiri, kuliah di luar negeri dan sebagainya, saya masih memiliki harapan untuk dapat mewujudkan impian melahirkan generasi penghapal Qur’an yang kelak menjadi pejuang islam yang tangguh. Saya tentu tidak bisa sendirian mencapainya, butuh partner yang memiliki kesamaan visi dan misi dalam hal tersebut. Hingga sekarang saya masih terus merajuk pada-Nya untuk meng-acc proposal saya tentang partner ini. Apalagi modal saya selain sabar dan sholat, berikhtiar lalu bertawakal. Jika ada pertanyaan-pertanyaan tentang menikah, saya senyum saja. Allah tahu lebih dari apa yang saya dan mereka tahu.


Wallahu a lam bishowab.  

Sabtu, 11 Juli 2015

Day 30

Tradisi Lebaran Keluarga

Dulu ketika nenek-kakek masih komplit, kita pasti akan kumpul di rumah mereka. Salim dengan seluruh keluarga besar, foto bareng. Tiap tahun foto bareng, sampai akhirnya satu persatu anggota keluarga berkurang. Sedih. Sekarang sih sudah tidak ada sesi foto bareng secara formal lagi. Biasanya kan berdiri berderet rapi depan rumah gitu. 
          Soal hidangan, ya seperti tradisi lebaran di negara ini, ada opor ayam. Nah yang seru, opor ayam a la kedua nenek ini berbeda. Buatan nenek dari papa itu kuah opornya lebih kekuningan, sedangkan buatan nenek dari mama kuahnya lebih pucat. Tapi dua-duanya enak. Kalau di rumah sendiri sih mama bikinnya lebih umum (sesuai mood yang bikin). 
         Kue-kue lebaran kadang saya bikin sendiri kalau lagi kambuh rajinnya. Ada resep turun-temurun dari nenek moyang. Nah kedua nenek juga punya resep kue masing-masing yang diturunkan ke anak cucunya lalu dikomersilkan. Jadilah sepupu-sepupu saya aktif di dunia perkuean sebagai produsen kue-kue lebaran. Kami yang tidak ada bakat dagang, cukup menjadi penikmat saja. Hehe. 
          Lebaran itu momen yang menyenangkan sekaligus membuat sedih, karena bulan ramadhan terasa cepat sekali berlalu dan dari lebaran ke lebaran kita tidak tahu berapa banyak yang akan berkurang ketika ada sanak saudara yang lebih dulu berpulang. 
              Sebagai tulisan terakhir di project menulis bersama ini, saya ingin mengucapkan selamat berlebaran untuk semuanya. Terima kasih sudah berkenan membaca postingan yang cemen ini. Sampai bertemu di project menulis bersama lainnya. Taqobalallohu minna wa minkum syiamana wa syiamakum...
  

Kamis, 09 Juli 2015

Day 28

Lionel Richie

Lagu jadul yang terakhir saya putar di playlist saya itu lagu-lagunya Lionel Richie. Khusus lagu Hello, saya memang punya kenangan istimewa dengan lagu itu. Seseorang pernah menyanyikan sebait lagu itu untuk saya on our first date. Setiap mendengar lagu itu, saya hampir selalu teringat dia. Too sweet to forget... 
Kemarin playlist itu saya putar karena saya butuh suasana yang kondusif untuk tidur, hehe. Itu saja sih... nothing else... 

Honestly isi laptop saya itu nyaris 80% isinya lagu jadul. Lagu-lagu Edith Piaf ada, lagu 60an, 70an, 80an, 90an... semuuuuaaa ada. Yes, I'm jadulers. Haha... 

Rabu, 08 Juli 2015

Day 27

Biskuit Kesukaan

Mmmm... Biskuit kesukaan saya sebenarnya sih biskuit bayi :D 
Entah sejak kapan, saya suka sekali ngemil biskuit bayi. For the brand i love farley most.
Selain biskuit bayi, saya suka ngemil biskuit roma yang malkist crackers.
Saya bukan orang yang terlalu suka menimbun cemilan... Cuma daripada telat makan terus jadi sakit, mending sedia biskuit di tas untuk jaga-jaga. P3K, pertolongan pertama pada kelaparan. 


Selasa, 07 Juli 2015

Day 26

Opini Berita yang Terakhir dibaca


Terakhir tadi saya membaca berita tentang pembalut dan pantyliner yang berbahaya bagi wanita. Berita ini sangat meresahkan saya. Kita sebagai konsumen banyak sekali dirugikan oleh ulah produsen yang tidak bertanggungjawab. Mereka seperti tidak punya keluarga. Saya gemas sekali dengan produsen-produsen nakal yang membahayakan konsumennya. Bagaimana regulasinya sih sampai produk-produk tidak aman ini bisa beredar di pasaran.

Senin, 06 Juli 2015

Day 25

Membuat Kartu Ucapan

  1. Siapkan kertas yang agak tebal, saya sih lebih suka yang dari kertas daur ulang karena teksturnya unik.
  2. Siapkan kertas tissue, boleh juga kertas daur ulang yang lebih tipis dari yang pertama. Lebih banyak warna makin bagus.
  3. Siapkan gunting, cutter, penggaris, pensil, penghapus, lem multi fungsi, tinta warna emas atau silver.
  4. Untuk hiasan siapkan bunga2 kering/ biji2an yg juga sudah dikeringkan (biasa ada di toko yg menjual perlengkapan untuk membuat kerajinan tangan).
  5. Buat bentuk yg diinginkan menggunakan pensil pada kertas dasar (yang tebal tadi). 
  6. Buat bentuk yg sama dengan ukuran lebih kecil di kertas yg lebih tipis.
  7. Gunting masing2 bentuk yg telah dibuat di kertas.
  8. Tempelkan bentuk yg ukuran lebih kecil pada yg berukuran lebih besar.
  9. Hias dengan bunga2 kering dan hiasan lainnya.
  10. Tuliskan ucapanmu pada bagian kertas yg tipis menggunakan tinta berwarna emas/silver tadi.
  11. Kartu ucapan sudah siap.

Minggu, 05 Juli 2015

Day 24

Negara Yang Ingin Dikunjungi : Inggris

Saya ingin sekali melanjutkan studi di Inggris. Alasannya sederhana, karena saya memang selama ini sangat suka dengan band-band Inggris. Selain itu saya melihat kota-kota di Inggris sangat menawan. Saya sering membayangkan tinggal  di salah-satu kota di Inggris, bersama keluarga kecil saya kelak. Inggris bagi saya merupakan tempat yang kondusif untuk membesarkan anak. Tingkat polusi rendah, banyak ruang hijau terbuka, dan tentu anak-anak saya akan lebih mudah menguasai bahasa Inggris sejak dini. Sepertinya menyenangkan piknik bersama anak-anak di pinggir danau dengan pemandangan angsa-angsa yang tengah berenang hilir mudik. Semoga harapan saya benar-benar bisa terwujud segera, aamiin.  

Day 23

My Last Research

Penelitian skripsi saya mengenai cyberwar. Niatnya sih mau membahas perang asimetris, tapi karena literatur mengenai hal tersebut pada saat itu sangat kurang jadi topiknya bergeser sedikit. Pada skripsi saya diulas mengenai hacking yang dilakukan oleh aktor non-negara pada negara. Metode yang dipakai ialah kualitatif deskriptif dengan tehnik pengumpulan data sekunder. Saya menggunakan teori pluralisme dalam membahas peran aktor non negara. Hasil dari penelitian saya memperlihatkan bahwa kegiatan hacking ini mengganggu kestabilan keamanan nasional negara yang menjadi objek hackingnya.  

Day 22

My Handwriting

Lagu ini romantis banget, semoga saya adalah salah-satu alasan kebahagiaan pasangan saya ;)

Lovely Day by Bill Withers


Kamis, 02 Juli 2015

Day 21

Leonardo Dicaprio

Wedeeeeewwww, itu ya yang namanya suka... sukaaaaaaaa bangeeeeeet. Saya mengumpulkan potongan tulisan tentang dia dari berbagai majalah. Sampai saya menganut 3L... Love, Life, dan Leo. Saya sudah suka dia sejak main di serial Growing Pains, lalu di film The Quick and The Dead bersama Sharon Stone. 

Saya tumbuh dengan film-film Leo. Ketika SMA, saya tergila-gila Romeo Montague versi Leonardo Dicaprio. Saking tergila-gilanya sampai mencari pacarpun mirip Leo, yang hingga detik ini belum tercapai karena tak kunjung menemukan yang benar-benar mirip... hahaha. 
Lalu perannya sebagai Jack di Titanic, sukses menghipnotis saya. 
He's damn cute.

Saya menonton nyaris semua film Leo. Sebagai King Louis di The Man in The Iron Mask, kriminal licin di Catch Me If You Can, penduduk asli New York dalam Gangs of New York, lalu Blood Diamond, The Aviator, Shutter Island, Inception, dan Great Gatsby.

Bisa dibilang sampai hari ini saya masih menjadi penggemarnya, walau tidak segila ketika masa remaja dulu.

Day 20

From Where I Stand

Lampu merah simpang Dago. Kenapa istimewa? karena lampu merahnya lamaaaaa banget, bikin stress. Setiap akan ke kampus, saya pasti harus melewati lampu merah ini. Paling sebal kalau waktunya mepet, terus dapat dua kali lampu merah karena antrian mobil yang cukup panjang. Di lampu merah simpang Dago, ada seorang pengamen yang sudah mengamen di sana tidak kurang dari sepuluh tahun lalu. Saya sampai hapal betul dengan pengamen tersebut. Si pengamen juga sepertinya hapal dengan wajah saya. 

Lampu merah simpang Dago oh lampu merah simpang Dago... 

Selasa, 30 Juni 2015

Day 19

Kisah Cinta dari Lirik Lagu


Waduh... Kisah cinta dari lirik lagu. Hmmm... all right...


Namanya berkelip di layar telepon genggam. Ketika tombol yes ditekan, segera suara berat itu menyerbu. Dia senang, bahagia. Ini bahkan belum pukul enam. Hampir setengah jam saling sapa dan berbasa-basi. Tidak sabar untuk segera bertemu, suatu tempat di kawasan Bandung Utara menjadi tempat sarapan bersama pertama mereka. Lelaki itu, on his early of thirty, dengan kaos abu berkerah. Secara fisik memang bukan tipe yang biasanya melelehkan hatinya. Tapi entah bagaimana, si gadis tidak pernah merasakan perasaan sepenuh saat itu. Langkahnya ringan, mata berbinar, dan bibir yang terus menyunggingkan senyuman. Si gadis jatuh cinta.

Lima tahun telah berlalu sejak hari itu. Komunikasi telah terputus sejak lama. Entah lah dia di mana dan sudah bagaimana. Selalu ada keinginan untuk bertemu dengannya lagi. Api cinta itu belum benar-benar padam. Lagu Hello, yang pernah disenandungkan lelaki itu di telinganya, mengalun lembut. Hatinya bagai teriris mendengar setiap bait lagu itu. 

 I've just got to let you know
'cause I wonder where you are
And I wonder what you do
Are you somewhere feeling lonely?
Or is someone loving you?
Tell me how to win your heart
For I haven't got a clue
But let me start by saying I love you


Senin, 29 Juni 2015

Day 18

OOTD

Ini setelan ngampus.
Kerudung, harganya lupa tapi belinya di ITC Kuningan. Inner coklatnya itu beli di BIP, harganya juga lupa palingan di bawah 100rb sih. Kalung, koleksi lama. Rompi juga umurnya hampir sama dengan kalung, ada mungkin 8 tahunan. Dua-duanya ga inget harganya. Celana jeans mereknya Free&Free, harganya lupaaaa.. itu celana juga udah lama banget. Tas merek Huer, dapatnya di Kokas, harganya lumayan lah yaaa... sepatu dapat di BIP, harganya 200rb-an kalau ga salah.

Day 17

Alergi

Fyuuuuhhh, alergi. Hmmmm... Debu dan partikel-partikel serupa debu. Alergen yang cepat sekali memicu kambuhnya alergi saya. Secara ringan paling bersin-bersin, hidung meler parah, dan dalam skala berat adalah sesak nafas. Bisa dari apa saja. Misalkan menyapu kamar, mencari baju di lemari, bahkan dari sejumlah uang lecek. Untuk pencegahannya ya paling pakai masker kalau memang mau beres-beres, atau menghindar jika yang beres-beres orang lain di dekat saya. Untuk kasus uang-uang lecek, saya memegang uang ketika memang diperlukan. Jadi saya sih tidak berbakat jadi bendahara yang sedikit-sedikit harus bersentuhan fisik dengan uang.

Bulu kucing dan bulu-bulu lainnya. Saya memang tidak suka kucing, tidak juga suka boneka. Saya tidak punya selimut berbulu-bulu, apalagi jaket bulu. Geli lah kalau soal bulu-bulu begitu. Reaksinya kalau dekat bulu-bulu ya hampir sama dengan yang tadi, bersin-bersin dan sebagainya. Tapi untuk yang ini, bisa sangat parah sekali efeknya. Kucing, sedapat mungkin saya hindari. Boneka dan bulu-bulu lainnya ya saya hindari juga, hehe.

Wortel dan tomat. Di sini saya merasa sedih. Karena sejak kecil terlalu banyak mengonsumsi wortel dan tomat, sekarang saya malah jadi alergi kedua makanan tadi. 





Sabtu, 27 Juni 2015

Day 16

Dance With Wolves

Saya termasuk penggila film, terutama film yang membuat kecerdasan meningkat (walau tidak signifikan). Terakhir kemarin saya baru saja menonton film lamanya Kevin Costner, keluaran tahun 1990. Film ini memiliki jalinan cerita yang cukup mengikat penontonnya walau berdurasi kurang lebih 4 jam. Saya sih asyik-asyik saja, kalau  bisa sih 6 jam sekalian. Hahaha.

Bersetting tahun 1890an, ketika suku Indian terjajah dari tanah leluhurnya di wilayah Amerika. Ceritanya sih hampir mirip The Last Samurai-nya Tom Cruise. Alkisah, John Dunbar seorang Letnan Amerika yang menempati pos tugasnya seorang diri. Teman setianya selama berminggu-minggu adalah kuda tunggangannya dan kemudian seekor serigala yang tiba-tiba menghampiri dan begitu jinak. Dinanti begitu lama, pasukan Amerika tak kunjung datang. Di tengah kejemuan, Dunbar disambangi suku indian. Mengandalkan komunikasi alakadarnya mereka pun berteman.  

Singkat cerita Dunbar ini menjadi "saudara angkat" suku indian di sana. Dia sangat dipercaya dan malah ikut berperang bersama suku Indian. Menjadi menarik ketika Dunbar yang adalah seorang Amerika dihadapkan pada keadaan dimana dia yang telah menjadi setengah indian (Dance With Wolves adalah nama indian dari John Dunbar) harus melawan pasukan Amerika yang menganggapnya berkhianat pada negara.

Film ini menggambarkan bagaimana pelik dan dilematisnya mencoba membangun harmoni antara ras yang berbeda, yang mana sarat akan konflik kepentingan. Saya sih sangat menikmati 4jam yang disuguhkan. Saya hadiahi 4 bintang deh untuk skala 1- 5. Adegan actionnya lumayan, dramanya juga dapat, Kevin Costnernya ajib banget sebagai sutradara sekaligus pemeran utama. Pantas film ini menyabet 7 Oscar.    

Jumat, 26 Juni 2015

Day15

My Collection

Kalau saya bilang koleksi saya adalah buku, rasanya telalu mainstream, hehe. Tapi memang buku adalah yang paling banyak jumlahnya dibandingkan barang lainnya di kamar saya. Bisa sampai ratusan lah ya.

Di sini, saya tidak ingin membahas buku sebagai koleksi saya. Selain buku ada lagi koleksi saya lainnya, yaitu sepatu. Tidak sampai seperti yang dimiliki oleh Imelda Marcos juga sih banyaknya. Tapi lumayan lah, buat saya ya cukup banyak juga. Kalau ada semuanya, mungkin bisa sampai 40 pasang. Karena saya pindah-pindah tempat  tinggal, jadi banyak yang tercecer. Beberapa malah sengaja saya tinggalkan di rumah kos yang pernah saya tempati.

Belanja sepatu itu membahagiakan. Apalagi ketika dapat model sepatu persis seperti yang diinginkan. Kadang saya malah membeli dua pasang sepatu model yang sama dengan warna berbeda, atau bahkan model dan warna yang sama. Sepatu yang nyaman dan cantik membuat saya lebih percaya diri. Biasanya saya memilih yang bertumit tinggi. Model haknya bisa macam-macam, tapi favorit saya adalah stiletto yang runcing.

Jenis koleksi sepatu saya macam-macam. Tergantung untuk dipakai ke mana dan kegiatan apa. Secara umum sih saya suka yang berbahan suede dan kulit. Warna coklat mendominasi koleksi sepatu saya. Harganya beragam, ada yang murah dan ada juga hasil menabung cukup lama. Merek favorit sih tidak ada, asal cocok dan enak dipakai ya saya beli.

Kamis, 25 Juni 2015

Day 14

90’s Memory

Sepertinya tema ini adalah tema yang paling saya sukai, kenangan dari era 90an. Filmnya, musiknya, makanannya, semuanya sangat membekas di hati. Ihhiiiiiwww.
Okay, mari kita kupas satu per satu...

1.       Film
Catatan si Boy, dengan onky Alexander sebagai pemeran utamanya. Siapa tak kenal dia, pemuda tampan, kaya raya, dan juga sholeh. Cuma sayang heart breaker banget. Lupus, adalah film favorit saya dari era 90an. For me, Ryan Hidayat is the most charming actor ever. Lupus paling pas diperankan oleh Ryan Hidayat. Film Trio Warkop menjadi film keluarga yang banyak ditunggu setiap lebaran, termasuk di era 90an. Selain film-film tadi tentu banyak film impor yang menjadi ikon 90an, misalnya Forrest Gump,  Romeo&Juliet, Titanic, dan lain-lain.
2.       Musik
Di Indonesia, pada era itu sedang terkena ‘demam’ musik melayu. Anak-anak SD pun mendendangkan Isabela dengan lirihnya, seolah pernah mengalami kisah cinta dua dunia. Selain itu ada judul-judul lagu melayu yang menggelitik semacam gerimis mengundang dan suci dalam debu. Ayo, yang di era 90an sudah mulai lincah, jangan pura-pura tidak pernah menyenandungkan lagu-lagu tadi (secara sengaja atau tidak disadari). 
Kalau selera impor, 90an adalah surganya. Ada Duran Duran, NKOTB, Spin Doctor, Nirvana,  Band-band Inggris semacam Oasis dan Blur, dan  banyak lagi. Oh iya, last but not least era 90an adalah eranya MTV yang dipunggawai Sarah Sechan, Utt, Jamie Aditya, Nadya Hutagalung.  
3.       Mainan
Ding-Dong itu sangat 90an, walau saya pribadi sih tidak pernah ya memainkannya. Tetris mungkin mainan paling hits saat itu.  Game watch yang biasa disebut gimbot juga kenang-kenangan dari era 90an satu gank dengan nintendo bersama mario brosnya. Untuk penggemar game komputer pasti mengenal game karateka dan prince persia.
4.       Fashion
Sepatu Docmart, kemeja flanel motif tartan, celana jeans model baggy atau celana hipster yang bagian bawahnya terinjak-injak. Mengaku saja lah, paling tidak satu dari item- item tadi pernah menjadi penghuni lemari atau rak sepatu kita- kita yang tumbuh di era 90an.
5.       Makanan
Coklat ayam, wafer superboy, permen zuper-zuper yang super asem, poprock yang meledak-ledak di mulut, jagoan neon yang bikin lidah warna-warni, permen karet  yosan, krip-krip rasa keju, chiki balls berhadiah tazos, kripik kentang chuba, dan banyak lagi makanan yang bercita rasa masalalu.

Kembali ke 90an menyisakan kerinduan akan segala hal yang datang dari masa itu. Andai bisa mengulang, saya akan mengulangnya lagi dan lagi dan lagi. Hahaha.



Rabu, 24 Juni 2015

Day 13

5 Hal Yang Dihindari

  1. Segala hal yang menjadi pencetus alergi dan asma. Kalau alergi dan asma saya kambuh akan sangat merepotkan. Sedapat mungkin saya menghindari alergennya, lebih baik mencegah daripada mengobati. 
  2. Lupa membawa hand sanitizer, tissue basah, dan uang.
  3. Menumpuk cucian kotor.
  4. Binatang melata.
  5. Segala hal yang berdampak buruk bagi kesehatan, misalnya : begadang, gorengan, dan soda. 

Selasa, 23 Juni 2015

Day 12

Menu Seafood Favorit

Sebenarnya saya itu pecinta makanan laut, sayangnya saya punya alergi pada beberapa makanan laut. Saya tidak bisa makan udang dan kerang. Saya hanya bisa menelan ludah ketika keluarga saya makan udang yang besar-besar, nasib. 

Saya suka sekali cumi, kepiting dan ikan. Saya hampir selalu pesan cumi goreng tepung di manapun ada menu itu. Kalau untuk kepiting, hanya bisa saya pesan kalau makan bareng-bareng. Agak repot dan risih ya makan kepiting sendirian. Khusus kepiting, saya harus ekstra hati-hati. Jika membersihkannya kurang bersih saya bisa alergi. 

Ikan adalah menu paling istimewa. Saya suka ikan apapun dimasak bagaimana saja saya tidak akan menolak selama itu enak. Saat paling menyenangkan adalah ketika makan bersama di restoran khusus hidangan laut, kita bisa saling coba berbagai menu. 



Senin, 22 Juni 2015

Day 11

Jakarta

Jakarta, kota yang sentimentil untuk saya. Kota yang menempa saya untuk menjadi mandiri, kuat, dan logis. Jakarta, kota sejuta warna dan kenangan. Hanya satu modal paling berharga saya untuk bekal hidup di Jakarta yang katanya keras, berbaik sangka. 

Saya ingat bagaimana adik saya mengantar saya pindah ke Jakarta. Kami berdua naik travel dan tidak yakin harus turun di mana, saya hanya sekali melihat tempat kos yang akan ditinggali jadi lupa-lupa ingat di mana letaknya. Untungnya kami tidak sampai harus kesasar dan luntang-lantung. Tidak sampai satu jam setelah dia pulang, saya langsung dicekam rasa ingin ikut pulang. Pertama menapaki hari-hari di Jakarta adalah masa-masa yang cukup berat bagi saya. Dari minggu ke minggu terasa sangat lama.

Kali kedua mendapat pekerjaan di Jakarta saya mulai merasa nyaman. Mendapat suasana kos seperti yang saya harapkan, teman-teman kos yang seperti keluarga. Minggu ke minggu terasa begitu cepat, berbanding terbalik dengan sebelumnya. 

Jakarta dan metromini. Semua yang pernah menjadi penumpang metromini di Jakarta pasti tahu sensasinya yang luar biasa. Kita harus naik dengan sigap dan turun dengan lincah. Makin sering naik metromini kita akan makin kebal dengan pengamen yang nyinyir, kondektur dan supir bermulut setajam silet, dan tentu laju metromini yang melesat bagai di arena F1.

Jakarta dan fashion. Banyak sale barang-barang branded, itu yang paling saya sukai dari Jakarta. Berkeliaran berburu Nine West, Elle, dan berbagai merek favorit. Jika banyak orang bilang Bandung surga belanja, saya malah lebih suka berbelanja di Jakarta. 

Jakarta, panas, gerah, bikin putih. Selama saya tinggal di Jakarta, kulit saya memang lebih bersih dan cerah. Jika orang-orang mengeluh Jakarta panas, saya sih sejauh ini nyaman-nyaman saja. Tapi memang saya tidak pernah tinggal di wilayah Jakarta Utara atau Barat. 

Banyak tempat di Jakarta yang sangat saya rindukan. Saya rindu Sarinah dan bubur Udin, Kuningan City dengan gerai Nine West dan dimsumnya Imperial Kichen. Gramedia Matraman yang luas. Nonton film di Setiabudi One. Pasaraya grande dengan koleksi sabuknya. Saya rindu sekali.

Selamat ulang tahun Jakarta, semoga makin cantik dan menyenangkan. Monorelnya segera rampung dan beroperasi. Jangan banjir-banjir lagi. Semua doa baik untuk Jakarta dan warganya.